Bedanya Komunitas Android Dulu dan Sekarang, Hmm

“kalau menemukan kesulitan kita harus terus mencari dan bertanya jawabannya, sampai kita menemukan alasan kenapa ga bisa diselesaikan”

Sebenar sudah mau nulis ini dari mungkin beberapa tahun lalu, ketika smartphone android sudah banyak dikenal dan banyak orang yang memilikinya karena  memang dibutuhkan dijaman sekarang, apalagi yang murah. Android dulu sebelum naik daun seperti sekarang harus bersaing dengan Nokia dan Blackberry (BB ), sekitaran tahun 2009an. Jadi dulu kalau punya Android dan Blackberry serasa sudah premium. Dulu ketika update status Facebook kita bisa memberitahukan ketemen-temen kita kalau kita update status via BB, padahal enggak juga karena ada aplikasi untuk memanipulasinya 😀 hehe. Untuk BB saya hanya tau itu sih, karena memang saya bukan User BB.

Smartphone Android pertama saya adalah Sony Xperia Miro, waktu itu masih 2jtan. Waktu itu Xperia Miro ini adalah di area mid-range , cameranya kala itu sudah paling okelah untuk foto foto, ngerekam atau dengerin musik. Nah ga tau kenapa sehari-dua hari lewat mulai tertarik dengan Android, mulai fitur-fiturnya, trus gimana chat pakai Whatsapp 😀 yang ga bayar, udah mulai pilih-pilih kuota, dan mengurangi isi pulsa untuk paket SMS. SMS ? Mungkin kalau anak sekarang ga tau serunya yang namanya SMS :D, dan gimana sensasinya nunggu balesan SMS dari lawan SMS kita.


Dahulu Terasa Indah

Baru seminggu sudah tau versi Android, waktu itu Xperia Miro sudah 4.1.2 Ice Cream Sandwitch dan termasuk yang paling baru, dan kebetulan di Facebook ada Grupnya yang unofficial untuk Indonesia. Wah disana sudah banyak orang yang nanya-nanya, dan saya juga baru tau apa itu namanya ngoprek, seru deh pokoknya komentar-komentarnya yang trial and error. Mulai dari situ saya mulai berani root, unlockbootloader, custom rom, custom kernel. Baru seminggu Xperia Miro saya sudah ganti custom rom ,katanya kalau sudah root atau unlockbootloader bakalan hilang garansinya ( padahal juga bisa dibalikin ). Pertama saya ganti pakai custom rom nya CyanogenMod, dan hasilnya satu malam Xperia Miro saya Bootloop, ya kawatir kalau rusak jadi bongkahan mainan aja nih. Tapi untung nya temen temen digrup itu semangat jawabnya dan memandu saya untuk bisa masuk ke home screen-nya.

Xperia Miro, Sudah Mantap Waktu Itu

Mulai dari situ pengalaman seru saya mulai deh, mulai dari benerin android temen yang rusak, trus kasih beberapa modifikasi pakai root, pakai custom rom, pakai rom yang anti-bloatware dan banyak lagi. Disini saya juga belajar kalau menemukan kesulitan kita harus browsing/cari/bertanya, sampai ketemu dan jangan sampai menyerah sampai menemukan alasan kenapa ga bisa diselesaikan dan itu terbawa ketika kuliah dan bahkan bekerja sampai sekarang. Pokoknya jangan sungkan-sungkan tanya ke grup Facebook deh karena waktu itu YouTube belum booming di Indonesia, digrup itu juga ada Developer Indonesia yang share karyanya untuk dicoba secara gratis dan free maintenance dalam artian kalau menemukan kesulitan mereka akan bantu. Developer ini juga membuat smartphone yang sudah lama masih layak digunakan, mulai dari improvement agar performa lebih tinggi, baterainya lebih awet, dan yang paling penting membuat tampilannya seperti smartphone flagship yang baru keluar. Jadi kita PD aja bawa hp lama, yang penting tampilan dan tweaknya ga kalah sama yang baru keluar. Di file docs isinya adalah tutorial tutorial yang berguna buat penghuni grup, dan itu adalah harta yang paling berguna dalam grup. Ketika kita sudah berhasil flash ( install ) seneng banget, apalagi kalau bisa bantu temen yang kesulitan sama androidnya, yang awalnya ga bisa digunain buat apa apa, bisa untuk kegiatan sehari hari. Setelah bawa Sony Xperia Miro, ganti ke Sony Xperia J, trus ke Nokia N9 (Meego, Sailfish, Android semua saya coba hehe) HTC One M7, sempet ketipu beli Xiaomi mi4 yang clone, LG G2, dan terahir Google Pixel.

HTC One M7 adalah yang paling sulit untuk proses opreknya karena mesti tau langkah-langkahnya yang agak panjang, memperbaikinya pun juga susah. Waktu itu saya sudah browsing kemana-mana, tanya ke grup Facebook katanya “flash ulang aja pasti bisa”. Eits ga semudah itu saya flash pun tetep ga ngaruh ga bisa masuk ke recoverynya dan ke mode fastbootnya. Pengalaman ngeri sih itu, soalnya waktu itu saya beli masih mahal, dan sayang kalau rusak. Ketika troubleshooting ini juga mengajarkan saya untuk komunikasi ke grup yang lebih besar yaitu XDA Developer. Disana juga saya bisa belajar lebih banyak lagi, tentang oprek android dan secara tidak langsung saya belajar bahasa inggris, hehe dikit dikit. Pokoknya seru lah pengalaman ketika oprek- oprek itu, soalnya dulu itu ya gimana caranya kita tanpa ganti smartphone, tapi kita masih bisa ngerasain fitur-fitur dari smartphone terbaru. Ibaratnya peremajaanlah, jadi kita masih bisa gunakan sekitar 2-4 tahun. Mantap pokoknya dah.


2013-2014, Mulai masuknya Android yang murah dengan kualitas yang bersaing

Setelah Banyak Smartphone Datang

Sudah sekitar setahunan saya sudah tidak aktif lagi untuk ngerubah-ngerubah tampilan smartphone saya karena sudah disibukkan dengan kegiatan lain, tapi masih mengikuti perkembangan Android, saya juga ingat kata-kata guru saya “bagaimanapun kamu mengikuti perkembangan kamu akan selalu tertinggal, karena kamu harus melakukan sesuatu hal lain dan meninggalkan perkembangan itu sendiri“. Meskipun tertinggal, paling tidak ga ketinggalan ketinggalan bangetlah karena temendekat yakin suatu saat pasti bermanfaat 🙂 . Nah beberapa tahun belakangan sudah banyak muncul banyak smartphone, sampai kita sulit banget untuk menempatkan suatu pilihan yang tetap, ya kan ? mau spesifikasi yang kayak gimana ? Merk apa ? Sony, Samsung, Oneplus, Oppo, Vivo, Xiaomi, LG, HTC, dan masih buanyak lagi yang produk produk lokal. Banyak-nya itu juga diimbangi dengan keluarnya Grup-Grup, Komunitas-Komunitasnya. Pengikutnya-pun juga banyak, ada yang udah punya smartphone-nya, ada yang masih mantau dan ga beli-beli, bahkan ada yang udah mau ganti, dll.

Tapiii meskipun grupnya buanyak, isi grupnya belum semaksimal yang dulu. Isinya sekarang adalah membandingkan antara smartphone itu dan yang lainnya, antara kamera, performa baterai, dan tak jarang juga isinya juga mengejek kualitas smartphone-nya. Konten improvement-nya jarang dan mungkin satu/dua, isinya mungkin foto-foto, trus tanya harga, ga jarang juga grupnya jadi grup jual-beli. Ga bisa juga dibuat salah-salahan juga sebenernya karena mungkin Developer nya sudah mulai pindah ke kelas yang lebih tinggi, atau males dan capek untuk improve-nya, karena memang untuk membuat improvement itu sangat membutuhkan waktu yang lama dengan trial and error. “Buat apa juga di di-improve tinggal beli barukan beres karena selisih harganya ga begitu besar jugakan”. Selain itu karena OS Android sudah berkembang pesat, sistem keamanan dari Android juga meningkat, jadi ya kita harus mencari celah lagi untuk memodifikasi smartphone kita. Mulai setahun-dua tahun belakangan saya sudah ga cari di Komunitas-Komunitas atau Grup FB, sudah sering liat di XDA karena disana mungkin lebih lengkap dan masih aktif developer grupnya. LG G2 saya juga masih saya gunakan meskipun agak lemot tapi versi androidnya sudah 7.1.2 hehe, masih bisa juga untuk gaming yang ga begitu berat, tapi karena sudah lama baterainya sudah mulai menurun. Intinya kalau dulu itu smartphone-nya lama tapi versi android dan fitur-fiturnya terbaru dan ga mau kalah bersaing.




So, What We Have to DO ?

Ya bagaimanapun semua itu pasti berubah, tinggal bagaimana kita menerima dan mengolah perubahan itu. Tulisan Bedanya Komunitas Android Dulu dan Sekarang, Hmm hanyalah sedikit pendapat saya yang mungkin salah, apabila temendekat memiliki pendapat yang berbeda silahkan tulis dikolom komentar dibawah :).

Leave a Reply

Your email address will not be published.